Loading...
NASIONAL.INFO - Harga cabai rawit merah yang masih tinggi membuat pemerintah semakin gamang berhadapan dengan masyarakat. Alasan alasan demi alasan dilontarkan untuk menjelaskan kepada masyarakat.

Apalagi masyarakat kian cerdas menginginkan jawaban cerdas dari pemerintah soal kenapa harga cabai mahal. Tapi apa boleh buat, kemabali masyarakat harus gigit jari melihat alasan pemerintah. Kali ini mereka katakan kalau pemerintah akan bantu doa akan kenaikana harga ini.
“Kita berdoa ya sama sama, semoga Februari semua sudah kembali normal ya,” ujar Spundik Direktur Jendral Holtikultura, Kementerian Pertanian Jumat 13/1 diberitakan Republika Online.
Spundik menjelaskan menjelang Februari mendatang ia berharap harga Cabai bisa kembali normal. Selain karena La Nina yang sudah habis, ia juga mengatakan perhitungan manajemen tanam, akan banyak stok yang bisa memenuhi kebutuhan konsumen.
“Produktifitas memang terganggu, tanaman ada. Saya selalu menyampaikan, iklim la nina itu mempengaruhi sekali cabai rawit. Terutama dari sisi pembungaan. Bunganya cenderung gugur. Pematangan buah yang terlambat juga. Jadi proses pematangan yang terganggu,” ujar Spundik di Kantor Dirjen Holitikultura, Jumat (13/1).
Spundik Sujono mengatakan telah melakukan manajemen tanam yang optimal untuk memastikan stok cabai tetap tersedia. Sayangnya, cuaca yang tak mendukung memang menjadi salah satu faktor kuota produksi berkurang. (WA)

Apalagi masyarakat kian cerdas menginginkan jawaban cerdas dari pemerintah soal kenapa harga cabai mahal. Tapi apa boleh buat, kemabali masyarakat harus gigit jari melihat alasan pemerintah. Kali ini mereka katakan kalau pemerintah akan bantu doa akan kenaikana harga ini.
“Kita berdoa ya sama sama, semoga Februari semua sudah kembali normal ya,” ujar Spundik Direktur Jendral Holtikultura, Kementerian Pertanian Jumat 13/1 diberitakan Republika Online.
Spundik menjelaskan menjelang Februari mendatang ia berharap harga Cabai bisa kembali normal. Selain karena La Nina yang sudah habis, ia juga mengatakan perhitungan manajemen tanam, akan banyak stok yang bisa memenuhi kebutuhan konsumen.
“Produktifitas memang terganggu, tanaman ada. Saya selalu menyampaikan, iklim la nina itu mempengaruhi sekali cabai rawit. Terutama dari sisi pembungaan. Bunganya cenderung gugur. Pematangan buah yang terlambat juga. Jadi proses pematangan yang terganggu,” ujar Spundik di Kantor Dirjen Holitikultura, Jumat (13/1).
Spundik Sujono mengatakan telah melakukan manajemen tanam yang optimal untuk memastikan stok cabai tetap tersedia. Sayangnya, cuaca yang tak mendukung memang menjadi salah satu faktor kuota produksi berkurang. (WA)
Loading...

